IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP YANG TERINTEGRASI DENGAN PENDIDIKAN DAYAH
DI MAS SYAMSUL MA'RIFAH AL-AZIZIYAH
TANGSE KABUPATEN PIDIE
Oleh
Amri Zainal Abidin, Nurhayati[1],
Mahdalena[2]
Mahasiswa
Pendidikan Agama islam
Pascasarjana IAIN Lhokeumawe
Email
: amribinzainalabidin@gmail.com
ABSTRACT
Implementation of Life Skills Education
Integrated with Dayah Education is still very little in Aceh, around 382 Dayah
have implemented it. One of them is Dayah Syamsul Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse,
Pidie Regency, out of all 1177 dayahs in the Aceh region. Moving on from these
problems, it can be formulated into three, namely; 1) How to implement Life
Skills education that is integrated with Dayah Education for students at MAS
Syamsul Ma‟rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie Regency. 2). What are the obstacles
in implementing life education (Life Skills) for students. 3) What are the
solutions in implementing education for life (Life Skills) for students at MAS
Syamsul Ma‟rifah Al-Aziziyah Tangse. The research method used in this study is
a qualitative method by carrying out a descriptive approach and field
observation, as well as a study of relevant books. The results showed that; 1.
The formulation of the problem of Implementation of Life Skills Education which
is integrated with dayah education at MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Tangse, Pidie has been
answered that has been going well. This can be seen from the time the talent
search was carried out since the registration of new students. 2. Obstacles in
implementing Life Skills Education which is integrated with dayah education at MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie rests on three main factors, namely; The first
factor is insufficient funds in the procurement of raw materials, the second
factor is the availability of insufficient time due to the busy time of morning
study at school and evening recitation time and the last factor is the factor
of instructors who do not have national standard competencies. 3. The solution
in implementing Life Skills Education which is integrated with dayah education
is also oriented to three main factors; The first factor is the funding
solution sought by the Madrasah Head by allocating School Operational Cost funds.
Approach with Board members solutions from Dayah Leaders, get credit from
local, as well as seek financial assistance from online orders from
instructors. The second factor is the small time allocation is the
implementation of time training outside the morning study hours and evening
reading hours, as well as optimizing vacation time for certain training. And
the final solution regarding instructors has been agreed that reliable local
instructors are the capital to make MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Tangse, Pidie students
successful in the hereafter.
Keywords: Life
Skills Education, Islamic Religious Education, Boarding School
ABSTRAK
Di era
globalisasi ini pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan pendidikan
dayah sangat penting diimplementasikan di madrasah - madrasah aliyah atau
sekolah - sekolah menengah atas untuk menghasilkan alumni berkompetensi dalam
ilmu dunia usaha dan ilmu agama. Menurut data statistika kantor kementerian
Agama Islam tahun 2020, jumlah madrasah yang terintegrasi dengan pendidikan
dayah di Aceh ada 1177. Sementara, hanya 382 madrasah yang telah
mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup. Salah satunya di MAS Syamsul Ma’rifah Al- Aziziyah Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie,
Aceh.
Beranjak dari
latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah adalah: Bagaimana mengimplementasikan pendidikan
kecakapan hidup yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah
terhadap peserta didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten
Pidie. Apasaja kendala di dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup terhadap peserta
didik. Dan bagaimana solusi di
dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup.
metode penelitian adalah metode kualitatif dengan melakukan
pendekatan deskriptif dan observasi kelapangan, serta tela’ah buku-buku yang
relevan.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi
dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah telah diimplementasikan
walaupun perlu perbaikan. Hal ini dapat terbukti dari alumninya yang mampu
secara mandiri berkiprah di dunia usaha dan menjadi pemuka agama dalam
masyarakat. Kendala yang ditemukan di
lapangan bertumpu kepada tiga faktor utama yaitu: Faktor kekurangan dana dalam
pengadaan bahan baku. Faktor waktu yang tidak mencukupi, karena banyaknya waktu
digunakan untuk pengajian sore dan malam hari serta pagi untuk bersekolah.
Faktor terakhir ialah instruktur lokal yang
belum memiliki kompetensi standar nasional. Solusi Faktor dana, Kepala Madrasah akan mengalokasi dana BOS. Ketua yayasan
mengajukan permohonan aspirasi kepada anggota legislatif / yudikatif tingkat
DPRA dan DPRK asal Tangse secara bertahap untuk pengadaan bahan baku pendidikan
kecakapan hidup. Faktor kurangnya waktu dalam pelaksanaan pelatihan pendidikan
kecakapan hidup, kepala serta guru sepakat jadwal pelaksanaanya diluar jam belajar
pagi dan jam mengaji malam. Pengoptimalan waktu libur madrasah adalah prioritas.
Dan solusi tentang instruktur, ketua yayasan dan kepala madrasah sementara
waktu mengunakan instruktur lokal. Di masa akan datang akan mengunakan
instruktur luar bersandar nasional untuk mendidik kecakapan hidup bagi peserta
didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse.
Kata Kunci : Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Agama Islam, Dayah
A.
PENDAHULUAN
Pendidikan dalam Islam memegang peranan yang sangat penting sehingga
wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º
ialah Iqra’ yang artinya Bacalah
! sebagaimana Firman Allah dalam
Surah Al-Alaq:
1-5.
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu
yang Menciptakan.
Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah
yang Maha
Pemurah,
yang mengajar manusia dengan perantara
kalam, Dia mengajar kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya[3].
Ayat ini diturunkan ketika Nabi Muhammad ï·º sedang khalwat di gua Hira,
ketika
beliau berusia 40 tahun. Ayat pertama yang langsung
diturunkan oleh Malaikat Jibril A.S yang bertugas meyampaikan wahyu dan sekaligus sebagai tanda pengangkatan Nabi Muhammad ï·º sebagai Rasul Allah. Firman Allah di atas
mengandung
makna untuk mendapatkan ilmu pendidikan
ialah dengan membaca, mengkaji, meneliti dan menulis haruslah ikhlas karena Allah
Ta’ala. Bukan hanya itu, teknik
mendapatkan ilmu dalam Islam haruslah melalui guru yang
bersanad (rentetan yang bersambung) sehingga sampai kepada Rasulullah ï·º supaya terpelihara keautentikkan dan keberkahannya. Setelah mendapatkan ilmu dengan menjaga adab
ilmu serta
kepada
guru
dianjurkan
supaya
senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah menganugrahi
ilmu sehingga memliki sifat tunduk dan tawadhuk.
Demikian halnya dalam tatanan
undang undang Republik Indonesia, dimana watak insan berilmu yang mampu
beradaptasi dengan peradaban bangsa juga tantangan globalisasi dunia menjadi
harapan bangsa, seperti yang dituangkan pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupa in bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[4]
Pembekalan pendidikan kecakapan
hidup (Life Skills) kepada peserta didik adalah
sesuatu yang sangat
krusial di zaman
now, juga yang
tidak kalah pentingnya ialah
pembekalan Pendidikan Agama yang terintegrasi dengan pendidikan dayah sangat
penting untuk menjadi manusia yang sempurna Insan Kamil dalam
dunia pendidikan. Seyogianyalah
Pembekalan Pendidikan Kecakapan Hidup dan Pendidikan Agama yang terintegrasi
dengan pendidikan Dayah pada setiap madrasah atau sekolah umum terpadu perlu
dikembangkan khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta
Kementerian Agama Republik Indonesia dari tingkat pusat, propinsi dan
kabupaten. Bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
untuk menyiapkan sarana dan prasarana serta instruktur yang kompeten untuk
menuju Madrasah atau Sekolah umum yang mandiri serta dapat bersaing di dunia
internasional (Santri Go International).
Faktor lain tentang pentingnya
pembekalan pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah
ialah karena tantangan dan ujian
iman di abad 21 ini sangatlah
memprihatinkan, dimana kebebasan dalam mengakses informasi teknologi unlimited,
maka ilmu agamalah sebagai perisai atau ibarat pagar yang melindungi peserta
didik dari melakukan kriminalisasi publik serta menghalalkan segala cara serta
untuk meraih keinginan pribadi dan kelompok, khusus di era globalisasi dan
modernisasi informasi serta teknologi multimedia dengan mudahnya bisa
memanipulasi tanpa teridentifikasi.
Kenyataannya “Jauh Panggang
dari Api” apa yang diharapkan tidak terealisasi. Manyoritas Madrasah Aliyah di Indonesia
hanya mengajari peserta
didiknya pelajaran Agama dan pelajaran umum tanpa
dibekali dengan kecakapan
hidup (Life Skills) dan tidak diintegrasikan dengan pendidikan di Pesantren atau
dayah. Data
dari situs kementerian agama republik indonesia direktorat jenderal pendidikan islam data statistik pendidikan islam madrasah tahun pelajaran 2019 /2020 ganjil
ialah
sebagai berikut:
Tabel 1.Jumlah Madrasah Berdasarkan Status Kelembagaan Seluruh
Indonesia
|
Jenjang Pendidikan |
Status |
|
|
Negeri |
Swasta |
|
|
MA |
802 |
5069 |
Sumber : Data Pangkalan Data Pondok Pesantren (pdpp)
Republik
Indonesia Tahun 2020[5]
Pada tabel di atas menunjukkan sebanyak 802 Madrasah Negeri dan 5069 Madrasah Swasta
di seluruh Nusantara, dan jika dijumlahkan
Madrasah Negeri dan
madrasah Swasta berjumlah
5871 Madrasah di seluruh Indonesia hanya membekali peserta didiknya dengan Ilmu
Umum dan sedikit dengan Ilmu Agama.
Tabel 2.
Jumlah Dayah /
pesantren di Wilayah Aceh dan Jumlah yang
Menyelenggaran
Satuan Pendidikan
|
Wilayah Aceh |
Tipe Dayah |
|
|
Pendidikan Dayah
saja / Salafiyah |
Pendidikan Umum & Kecakapan Hidup |
|
|
1177 |
382 |
|
Sumber
: Data Pangkalan Data Pondok
Pesantren (pdpp) Republik
Indonesia
Tahun 2020[6]
Dari tabel di atas menunjukkan dayah dan pasantren di Aceh berjumlah1177 adalah pasantren yang hanya mengajarkan kitab kuning
saja satau lebih dikenal dengan dayah tradisional atau dayah salafiyah. Sedangkan sebanyak 382
dayah / pesantren yang sudah mengadobsi
pendidikan kolaborasi
antara pendidikan
umum, kecakapan
kerja dan
pendidikan
agama yang terintegrasi dengan kurikulum dayah. Sisanya sejumlah 795 dayah yang
perlu dilakukan
sosialisasi akan pentingnya kecakapan
hidup dan berasimilasi
dengan sekolah umum.
Salah satu Madrasah di Kecamatan
Tangse Kabupaten Pidie Provinsi Aceh ialah MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah
Gampong Blang Bungong didirikan pada
tahun 2015 di
bawah naungan Yayasan
Dayah Syamsul Ma’rifah Al- Aziziyah dipimpin
oleh Tgk. H.
Ja’far Hamzah, S.Sos.I. Konsep
yang di terapkan ialah
peserta didik yang
mendaftar di MAS
Syamsul Ma’rifah Al- Aziziyah
akan dibekali dengan pendidikan umum, kecakapan hidup (Life Skills) serta ilmu
agama yang terintegrasi dengan pendidikan Dayah Syamsul Ma’rifah. Diantara
kecakapan hidup yang ada di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah ialah pertukangan,
perabotan, pertanian, perternakan (sapi & bebek), menjahit, bisnis kuliner,
bisnis busana muslimah, bisnis air masak isi ulang, bisnis loundy, serta bisnis
pembayaran online, jasa pengiriman dan penarikan uang via BSI Link. Di bidang
retorika ramai yang telah menjadi da’i kondang di wilayah Tangse, Mane &
Geumpang sehingga sering mendapat undangan dakwah dalam meperingati Maulid Nabi
Muhammad , Isra’
Mi’raj dan peringatan
hari hari besar
islam lainnya.
Melihat kiat kiat implementasi
Pendidikan kecakapan hidup (Life Skills)
yang dilaksanakan oleh MAS Syamsul Ma’rifah serta setelah menemukan
pokok permasalahan di atas, maka solusi yang terbaik ialah peserta didik
setelah tamat dari madrasah atau
sekolah terpadu mereka
tidak hanya membawa
pulang selembar Ijazah saja, tetapi mereka bangga memiliki alumni dari
Madrasah atau sekolah yang memiliki kecakapan hidup (Life Skills), memiliki
kompetensi di dunia usaha dan ada
talenta dalam urusan agama. Dari itulah penulis tertarik membuat penelitian dan
menulis dalam tesis ini yang berjudul : “Implementasi
Pendidikan Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan Pendidikan Dayah di MAS
Syamsul Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie”
Berdasarkan permasalahan di atas
penulis perlu merumuskan beberapa masalah mengenai Implementasi Pendidikan
Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan Pendidikan Dayah di MAS Syamsul
Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie sebagai
berikut :
1. Bagaimana pengimplementasian pendidikan
kecakapan hidup
(Life Skills) yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah terhadap peserta didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah
Tangse Kabupaten Pidie
?
2. Apasaja kendala di dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan
hidup (Life Skills) terhadap
peserta didik di MAS Syamsul
Ma’rifah
Al-
Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie?
3.
Bagaimana solusi di dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup
(Life Skills) terhadap
peserta didik di MAS Syamsul
Ma’rifah
Al-
Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie
?
B. METODOLOGI
PENELITIAN
Dalam penulisan jurnal ini, penulis
memakai penelitian metode kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif dan
observasi kelapangan, juga penelaahan terhadap buku buku yang relevan[7]. Sedangkan
pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (Case
Study) salah satu
dari jenis pendekatan
yang dikemukakan oleh Creswell adalah studi kasus. Jenis
pendekatan studi kasus ini merupakan jenis pendekatan yang digunakan untuk menyelidiki
dan memahami sebuah kejadian atau
masalah yang telah
terjadi dengan mengumpulkan berbagai
macam informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah solusi
agar masalah yang diungkap dapat terselesaikan[8].
Penelitian ini hendak
mengeksplorasi atau menggambarkan tentang bagaimana performa guru PAI dalam mengimplementasikan
pendidikan kecakaan hidup dipadukan dengan pendidikan Dayah studi kasus pada
MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie. Metode dengan
pendekatan deskriptif menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya Lexy J. Moleong
ialah pendekatan ini diarahkan
pada latar dan individu secara holistic (utuh).
Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi
ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari
sesuatu keutuhan. Adapun yang menjadi
subjek penelitian dalam tesis ini adalah Kepala Madrasah, Wakil Kepala,
guru madrasah dan guru pengajian serta peserta didik di MAS DASYAMMA. Adapun
bentuk pengumpulan data yang penulis tempuh antara lain: Observasi, interview,
dokumentasi, dan studi literatur.
C. HASIL
PENELITIAN
1.
Temuan Khusus
a.
Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan
Pendidikan Dayah.
1)
Jenis Pendidikan Kecakapan Hidup dan Jenis Pendidikan Dayah
kesimpulan bahwa semua bidang kecakapan
hidup Lifeskill terlaksana dengan
sangat baik hanya perlu adanya upgrading bahan peralatan kerja lebih canggih
lagi untuk mendapatkan hasil produksi yang berdaya saing dimasa yang akan
datang. Sementara Lifeskill yang integrasi dengan pendidikan dayah sudah
sangat sempurna dan perlu diberikan anjungan jempol kepada semua pihak yang
telah menjadikan mereka memiliki akhlakul karimah.
2)
Kurikulum yang diterapkan dalam melaksanakan
pendidikan kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi
dengan pendidikan dayah
Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara di atas peneliti menarik kesimpulan bahwa perlu pembenahan dan
pengadaan kurikulum untuk dapat melakukan pencapaian target pembelajaran dan
pelatihan Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah. Sehingga
peserta didik dapat terukur secara sistematis dalam mendapatkan pendidikan Lifeskill.
3)
Produksi Pasca implementasikan
pendidikan kecakapan hidup Lifeskill.
Kesimpulan berdasarkan rumusan masalah
Implementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi
dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong
Tangse telah terjawab bahwa implementasinya sudah berjalan dengan baik. Hal ini
dapat dilihat dari semenjak pencarian bakat kecakapan hidup Lifeskill dilakukan
sejak dini yaitu saat pendaftaran peserta didik baru. Serta peserta
didiknya yang berakhlakul karimah ini merupakan bukti integrasi
pendidikan dayah terlah berhasil. Hanya saja Hardskill perlu pembenahan
dibidang kurikulum sehingga mencapai target pelatihan serta dapat terukur uji
kompetensinya atau evaluasinya. Di sisi lain, produksi hasil implementasi perlu
peningkatan promosi dan sosialisasi keluar dan tidak hanya beredar barangan
hanya disekira kompleks Dayah saja tapi bisa go nasional dan go
internasional.
b. Kendala Dalam Mengimplementasikan
Pendidikan Kecakapan Hidup
1). Faktor Dana
Hasil
observasi dilapangan peneliti menemukan benar seperti yang dikatakan para guru
dan kepala sekolah ini yang menjadi kendala produksi karna faktor ekonomi.
Belum lagi dengan wabah virus covid-19 menjadikan ekonomi menjadi down[9].
Dari hasil
observasi dan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa walaupun
terkendala dengan faktor ekonomi namun produksi tetap berjalan dan ada bidang
produksi yang memang tidak bermaslah dengan keuangan sebab proses perputaran
uang yang sangat cepat.
2). Faktor Waktu
Hasil
observasi dilapangan peneliti temukan memang benar terjadi kekurangan waktu
bagi peserta didik untuk mendapatkan pendidikan kecakapan hidup dikarenakan sangat
padatnya jam belajar siang dan jam belajar malam hanya tersisa
waktu pada antara waktu setelah asar dan menjelang magrib[10].
Hasil
kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi di atas bahwa kendala waktu
benar ada namun pendidikan harus tetap terlaksana sebagaimana mestinya walaupun
waktu sedikit. Penambahan waktu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagai kepala
sekolah dalam menegosiasi dengan ketua yayasan Dayah Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong. Semoga ada jalan keluarnya.
3). Faktor Instruktur
Hasil observasi lapangan penulis
menemukan kebanyakan instruktur adalah berasal dari lokal dalam komplek Dayah
dan amat sukar dicari orang yang berasal dari luar dayah untuk kegiatan
pendidikan kecakapan hidup yang tidak mampu di handle oleh instruktur
lokal MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong[11].
Kesimpulan
yang dapat diambil dari hasil observasi diatas ialah pelaksanaan pelatihan
kecakapan hidup tetap berjalan walaupun dengan kekurangan instruktur yang dari
luar tapi hanya untuk sekedar menyelesaikan kewajiban dan bukan untuk
menyajikan yang hebat setaraf nasional, MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang
Bungong Tangse masih belum mampu dan jika dua kendala diatas terselesaikan InsyaAlllah
masalah nstruktur juga akan kelar. Karena kendala terkait antara satu dengan
yang lainnya.
Dengan
demikian dapat disimpulkan berdasarkan rumusan masalah kendala dalam
mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi
dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong
Tangse telah terjawab bahwa kendala utama dalam mengimplementasikan Pendidikan
kecakapan hidup Lifeskill ialah bertumpu kepada tiga faktur utama yaitu
: Faktor pertama ialah dana yang tidak memadai dalam pengadaan bahan baku,
Faktor kedua ialah waktu yang tidak
tidak cukup karena padat waktu belajar pagi (sekolah) dan waktu
pengajian malam dan faktor terakhir ialah Faktor Instruktur ang memiliki
kompetensi.
c.
Solusi Terhadap Kendala Dalam Mengimplementasikan Pendidikan Kecakapan
Hidup
1. Faktor Dana
Hasil observasi dilapangan peneliti
menemukan bahwa apa yang diutarakan oleh kepala MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong untuk mengalokasikan dana BOS terbukti pada struk
laporan EDM erKAM Madrasah ada beberapa peralatan pelatihan yang dibelikan secara
terstruktur dan berangsur. Begitu juga dengan Ketua Yayasan Dayah Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse, sangat berkomitmen dengan janjinya
serta telah dirasakan hasilnya tahap pertama yaitu dengan mendapatkan 10
(sepuluh) unit mesin jahit dari Anggota Dewan DPRK Partai PAN yaitu Tgk.
Hizbullah. Alumni dari Dayah Mudi Mestra Samlanga Bireueun yangkini menduduki
jabatan sebagai Bendahara Partai PAN Kabupaten Pidie Aceh. Sementara ada pihak
yang bersedia meminjamkan dana walaupun dalam jumlah skala menengah, sedikit
banyaknya telah tertampung dan terselesaikan masalah keuangan[12].
2. Faktor Waktu
kesimpulan yang dapat diambil dari hasil
observasi di atas bahwa solusi tentang permasalahan waktu telah terselesaikan
dimana kepala dan guru atau instruktur menalokasikan waktu diluar jam belajar
dan jam mengaji serta memilih hari minggu untuk pelatihan yang bersifat
menenggah dan libur semester untuk pelatihan yang membutuhkan waktu yang agak
lama.
3. Faktor Instruktur
Kesimpulan
yang dapat diambil dari hasil observasi di atas ialah pelaksanaan pelatihan
kecakapan hidup tetap berjalan lancar walaupun dengan instruktur lokal yang penting handal dan
hasilnya bukan tingkatan sandal dan yang sangat penting produk dari instruktur
lokal tidak mahal pas untuk ukuran ekonomi menegah kebawah. Serta memberikan
manfaat untuk ummat.
Dengan
demikian dapat disimpulkan berdasarkan rumusan masalah solusi dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan
hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse telah terjawab sudah faktor dana
diupayakan alokasi dana BOS, pendekatan dengan Anggota dewan putra Tangse,
mendapat pinjaman dari lokal, serta berburu bantuan keuangan dari perintah
secara online. Faktor waktu dilaksanakan pelatihan pada waktu diluar jam
belajar pagi dan jam mengaji malam, serta mengoptimalkan waktu libur untuk
pelatihan tertentu. Dan solusi tentang instruktur telah disepakati bahwa
instruktur lokal yang handal menjadi modal mencetak peserta didik MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse sukses dunia akhirat.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan
rumusan masalah Implementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang
terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang
Bungong Tangse bahwa pelaksanaannya sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat
dilihat dari semenjak pencarian bakat kecakapan hidup Lifeskill yang
dilakukan sejak dini yaitu saat pendaftaran peserta didik baru. Serta
peserta didiknya berakhlakul karimah, ini merupakan bukti integrasi
pendidikan dayah telah berhasil. Hanya saja, Hardskill perlu pembenahan
dibidang kurikulum sehingga mencapai target pelatihan serta dapat terukur uji
kompetensi dan evaluasinya. Di sisi lain, produksi hasil implementasi perlu
peningkatan promosi dan sosialisasi keluar dan barangan tidak hanya beredar
disekitar kompleks Dayah saja tapi bisa go nasional dan go internasional.
Kendala dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill
yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah
Blang Bungong Tangse bahwa bertumpu kepada tiga faktur utama yaitu : Faktor
pertama ialah dana yang tidak memadai dalam pengadaan bahan baku. Faktor kedua
ialah waktu yang tidak tidak cukup
karena padat waktu belajar pagi (sekolah) dan waktu pengajian malam dan faktor
terakhir ialah Faktor Instruktur yang belum memiliki sertifikat kompetensi
nasional.
solusi dalam
mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi
dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong
Tangse juga berorientasi kepada tiga faktor juga yaitu: faktor
dana, dimana Pihak Kepala Madrasah
mengupayakan untuk mengalokasikan dana BOS bagi terlaksananya Pendidikan
Kecakapan hidup. Pendekatan solusi lainnya yang diusahakan oleh Ketua Yayasan
Dayah Syamsul Ma’rifah Tangse ialah dengan mendekati Anggota dewan putra
Tangse. Faktor yang terakhir ialah waktu dimana pihak madrasah telah menemukan
solusi untuk dilaksanakan pelatihan pada waktu diluar jam belajar pagi dan jam
mengaji malam, serta mengoptimalkan waktu libur untuk pelatihan tertentu. Dan
solusi tentang instruktur telah disepakati bahwa instruktur lokal yang handal
menjadi modal mencetak peserta didik MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang
Bungong Tangse sukses dunia akhirat.
E. DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2020. Statistik, Pangkalan Data
Pondok Pesantren (pdpp). Statistik Data Pondok Pesantren. Online.
(https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pdpp/statistik, diakses 19 September 2022)
Creswell, Jhon W. 2016. Research Design
Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Departemen Agama Republik Indonesia, 2000. Al-Qur’an
dan Hadits Departemen Agama RI,
Al-Qur’an dan Terjemah, Semarang: PT. Karya Toha Putra.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Atas. 2017.Panduan Penilaian. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah Atas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dosen Analisis Kurikulum PAI Berbasis
Kearifan Lokal IAIN Lhokseumawe
Dosen Pascasarjana IAIN Lhokseumawe
Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.
Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.
Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 08 Juni 2022.
Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul
Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten Pidie. Tgl 08 Juni 2022.
Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian
Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,.
[1] Dosen Analisis
Kurikulum PAI Berbasis Kearifan Lokal IAIN Lhokseumawe
[2] Dosen Pascasarjana
IAIN Lhokseumawe
[3] Departemen Agama Republik Indonesia, 2000. Al-Qur’an
dan Hadits Departemen Agama RI,
Al-Qur’an dan Terjemah, Semarang: PT. Karya Toha Putra. h 546
[4] Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Atas. 2017.Panduan Penilaian. Jakarta. Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Atas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. h.11
[5] Anonim, 2020. Statistik, Pangkalan
Data Pondok Pesantren (pdpp). Statistik
Data Pondok Pesantren. Online.
(https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pdpp/statistik, diakses 19 September 2022)
[6] Ibid
[7] Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, ,
h 264
[8] Creswell, Jhon W.
2016. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 346
[9] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.
[10] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.
[11] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 08 Juni 2022.
[12] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah
Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten Pidie. Tgl 08 Juni 2022.