Pages

Minggu, 27 November 2022

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP YANG TERINTEGRASI DENGAN PENDIDIKAN DAYAH DI MAS SYAMSUL MA'RIFAH AL-AZIZIYAH TANGSE KABUPATEN PIDIE

 

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP YANG TERINTEGRASI  DENGAN PENDIDIKAN DAYAH

DI MAS SYAMSUL MA'RIFAH AL-AZIZIYAH

TANGSE KABUPATEN PIDIE

 

Oleh

Amri Zainal Abidin, Nurhayati[1], Mahdalena[2]

Mahasiswa Pendidikan Agama islam Pascasarjana IAIN Lhokeumawe

Email : amribinzainalabidin@gmail.com

 

ABSTRACT

 

Implementation of Life Skills Education Integrated with Dayah Education is still very little in Aceh, around 382 Dayah have implemented it. One of them is Dayah Syamsul Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie Regency, out of all 1177 dayahs in the Aceh region. Moving on from these problems, it can be formulated into three, namely; 1) How to implement Life Skills education that is integrated with Dayah Education for students at MAS Syamsul Ma‟rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie Regency. 2). What are the obstacles in implementing life education (Life Skills) for students. 3) What are the solutions in implementing education for life (Life Skills) for students at MAS Syamsul Ma‟rifah Al-Aziziyah Tangse. The research method used in this study is a qualitative method by carrying out a descriptive approach and field observation, as well as a study of relevant books. The results showed that; 1. The formulation of the problem of Implementation of Life Skills Education which is integrated with dayah education at MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie  has been answered that has been going well. This can be seen from the time the talent search was carried out since the registration of new students. 2. Obstacles in implementing Life Skills Education which is integrated with dayah education at MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie  rests on three main factors, namely; The first factor is insufficient funds in the procurement of raw materials, the second factor is the availability of insufficient time due to the busy time of morning study at school and evening recitation time and the last factor is the factor of instructors who do not have national standard competencies. 3. The solution in implementing Life Skills Education which is integrated with dayah education is also oriented to three main factors; The first factor is the funding solution sought by the Madrasah Head by allocating School Operational Cost funds. Approach with Board members solutions from Dayah Leaders, get credit from local, as well as seek financial assistance from online orders from instructors. The second factor is the small time allocation is the implementation of time training outside the morning study hours and evening reading hours, as well as optimizing vacation time for certain training. And the final solution regarding instructors has been agreed that reliable local instructors are the capital to make MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse, Pidie  students successful in the hereafter.

 

Keywords: Life Skills Education, Islamic Religious Education, Boarding School

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Di era globalisasi ini pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan pendidikan dayah sangat penting diimplementasikan di madrasah - madrasah aliyah atau sekolah - sekolah menengah atas untuk menghasilkan alumni berkompetensi dalam ilmu dunia usaha dan ilmu agama. Menurut data statistika kantor kementerian Agama Islam tahun 2020, jumlah madrasah yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di Aceh ada 1177. Sementara, hanya 382 madrasah yang telah mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup. Salah satunya di MAS Syamsul Ma’rifah Al- Aziziyah Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie, Aceh.

Beranjak dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah adalah: Bagaimana   mengimplementasikan   pendidikan   kecakapan   hidup   yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah terhadap peserta didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie. Apasaja kendala di dalam  mengimplementasikan  pendidikan kecakapan hidup terhadap  peserta  didik. Dan bagaimana solusi di dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup.

metode penelitian adalah metode kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif dan observasi kelapangan, serta tela’ah buku-buku yang relevan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah telah diimplementasikan walaupun perlu perbaikan. Hal ini dapat terbukti dari alumninya yang mampu secara mandiri berkiprah di dunia usaha dan menjadi pemuka agama dalam masyarakat. Kendala yang ditemukan di lapangan bertumpu kepada tiga faktor utama yaitu: Faktor kekurangan dana dalam pengadaan bahan baku. Faktor waktu yang tidak mencukupi, karena banyaknya waktu digunakan untuk pengajian sore dan malam hari serta pagi untuk bersekolah. Faktor  terakhir ialah instruktur lokal yang belum memiliki kompetensi standar nasional. Solusi  Faktor dana, Kepala Madrasah akan  mengalokasi dana BOS. Ketua yayasan mengajukan permohonan aspirasi kepada anggota legislatif / yudikatif tingkat DPRA dan DPRK asal Tangse secara bertahap untuk pengadaan bahan baku pendidikan kecakapan hidup. Faktor kurangnya waktu dalam pelaksanaan pelatihan pendidikan kecakapan hidup, kepala serta guru sepakat jadwal pelaksanaanya diluar jam belajar pagi dan jam mengaji malam. Pengoptimalan waktu libur madrasah adalah prioritas. Dan solusi tentang instruktur, ketua yayasan dan kepala madrasah sementara waktu mengunakan instruktur lokal. Di masa akan datang akan mengunakan instruktur luar bersandar nasional untuk mendidik kecakapan hidup bagi peserta didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse.

 

Kata Kunci : Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Agama Islam, Dayah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.    PENDAHULUAN

Pendidikan dalam Islam memegang peranan yang sangat penting sehingga wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º ialah Iqra  yang artinya Bacalah ! sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Alaq: 1-5.

Artinya :

 Bacalah  dengan  (menyebut)  nama  Tuhanmu  yang  Menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah  yang  Maha  Pemurah,  yang  mengajar  manusia  dengan  perantara kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya[3].

Ayat ini diturunkan ketika Nabi Muhammad ï·º  sedang khalwat di gua Hira, ketika  beliau berusia 40 tahun. Ayat pertama yang langsung diturunkan oleh Malaikat Jibril A.S yang bertugas meyampaikan wahyu dan sekaligus sebagai tanda  pengangkatan Nabi Muhammad ï·º  sebagai Rasul Allah. Firman Allah di atas  mengandung  makna  untuk  mendapatkan  ilmu  pendidikan  ialah  dengan membaca, mengkaji, meneliti dan menulis haruslah ikhlas karena Allah Taala. Bukan hanya itu, teknik mendapatkan ilmu dalam Islam haruslah melalui guru yang bersanad (rentetan yang bersambung) sehingga sampai kepada Rasulullah ï·º supaya terpelihara keautentikkan dan keberkahannya. Setelah mendapatkan ilmu dengan  menjaga  adab  ilmu  serta  kepada  guru  dianjurkan  supaya  senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah menganugrahi ilmu sehingga memliki sifat tunduk dan tawadhuk.

Demikian halnya dalam tatanan undang undang Republik Indonesia, dimana watak insan berilmu yang mampu beradaptasi dengan peradaban bangsa juga tantangan globalisasi dunia menjadi harapan bangsa, seperti yang dituangkan pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan  kehidupa  in  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[4]

Pembekalan pendidikan kecakapan hidup (Life Skills) kepada peserta didik adalah  sesuatu  yang  sangat  krusial  di  zaman  now,    juga  yang  tidak  kalah pentingnya ialah pembekalan Pendidikan Agama yang terintegrasi dengan pendidikan dayah sangat penting untuk menjadi manusia yang sempurna Insan Kamil  dalam  dunia pendidikan.  Seyogianyalah Pembekalan Pendidikan Kecakapan Hidup dan Pendidikan Agama yang terintegrasi dengan pendidikan Dayah pada setiap madrasah atau sekolah umum terpadu perlu dikembangkan khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Republik Indonesia dari tingkat pusat, propinsi dan kabupaten. Bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia untuk menyiapkan sarana dan prasarana serta instruktur yang kompeten untuk menuju Madrasah atau Sekolah umum yang mandiri serta dapat bersaing di dunia internasional (Santri Go International).

Faktor lain tentang pentingnya pembekalan pendidikan kecakapan hidup yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah ialah  karena tantangan dan ujian iman  di abad 21 ini sangatlah memprihatinkan, dimana kebebasan dalam mengakses informasi teknologi unlimited, maka ilmu agamalah sebagai perisai atau ibarat pagar yang melindungi peserta didik dari melakukan kriminalisasi publik serta menghalalkan segala cara serta untuk meraih keinginan pribadi dan kelompok, khusus di era globalisasi dan modernisasi informasi serta teknologi multimedia dengan mudahnya bisa memanipulasi tanpa teridentifikasi.

Kenyataannya Jauh Panggang dari Api” apa yang diharapkan tidak terealisasi. Manyoritas Madrasah Aliyah di Indonesia hanya mengajari peserta didiknya pelajaran Agama dan pelajaran umum tanpa dibekali dengan kecakapan hidup (Life Skills) dan tidak diintegrasikan dengan pendidikan di Pesantren atau dayah. Data dari situs kementerian agama republik indonesia direktorat jenderal pendidikan islam data statistik pendidikan islam madrasah tahun pelajaran 2019 /2020 ganjil ialah sebagai berikut:

Tabel 1.Jumlah Madrasah Berdasarkan Status Kelembagaan Seluruh

Indonesia

Jenjang

 

Pendidikan

Status

Negeri

Swasta

MA

802

5069

Sumber :  Data Pangkalan Data Pondok Pesantren (pdpp) Republik      

                Indonesia Tahun 2020[5]

 

Pada tabel di atas menunjukkan sebanyak 802 Madrasah Negeri dan 5069 Madrasah Swasta di seluruh Nusantara, dan jika dijumlahkan  Madrasah Negeri dan madrasah Swasta berjumlah 5871 Madrasah di seluruh Indonesia hanya membekali peserta didiknya dengan Ilmu Umum dan sedikit dengan Ilmu Agama.

Tabel 2. Jumlah Dayah / pesantren di Wilayah Aceh dan Jumlah yang

Menyelenggaran Satuan Pendidikan

 

 

 

 

Wilayah

Aceh

Tipe Dayah

Pendidikan

Dayah saja / Salafiyah

Pendidikan Umum &

Kecakapan Hidup

1177

382

Sumber :  Data Pangkalan Data Pondok Pesantren (pdpp) Republik

                 Indonesia Tahun 2020[6]

 

Dari tabel di atas menunjukkan dayah dan pasantren di Aceh berjumlah1177 adalah pasantren yang hanya mengajarkan kitab kuning saja satau lebih dikenal dengan dayah tradisional atau dayah salafiyah. Sedangkan sebanyak 382 dayah   /   pesantren   yang   sudah   mengadobsi   pendidikan   kolaborasi   antara pendidikan  umum,  kecakapan  kerja  dan  pendidikan  agama  yang  terintegrasi dengan kurikulum dayah. Sisanya sejumlah 795 dayah yang perlu dilakukan sosialisasi  akan  pentingnya kecakapan  hidup  dan  berasimilasi  dengan  sekolah umum.

Salah satu Madrasah di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Provinsi Aceh ialah MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Gampong Blang Bungong didirikan pada  tahun  2015  di  bawah  naungan  Yayasan  Dayah  Syamsul  Ma’rifah Al- Aziziyah  dipimpin  oleh    Tgk.  H.  Ja’far Hamzah,  S.Sos.I.  Konsep  yang  di terapkan  ialah  peserta  didik  yang  mendaftar  di  MAS  Syamsul  Ma’rifah Al- Aziziyah akan dibekali dengan pendidikan umum, kecakapan hidup (Life Skills) serta ilmu agama yang terintegrasi dengan pendidikan Dayah Syamsul Ma’rifah. Diantara kecakapan hidup yang ada di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah ialah pertukangan, perabotan, pertanian, perternakan (sapi & bebek), menjahit, bisnis kuliner, bisnis busana muslimah, bisnis air masak isi ulang, bisnis loundy, serta bisnis pembayaran online, jasa pengiriman dan penarikan uang via BSI Link. Di bidang retorika ramai yang telah menjadi da’i kondang di wilayah Tangse, Mane & Geumpang sehingga sering mendapat undangan dakwah dalam meperingati Maulid  Nabi  Muhammad  ,  Isra’  Mi’raj  dan  peringatan  hari  hari  besar  islam lainnya.

Melihat kiat kiat implementasi Pendidikan kecakapan hidup (Life Skills)   yang dilaksanakan oleh MAS Syamsul Ma’rifah serta setelah menemukan pokok permasalahan di atas, maka solusi yang terbaik ialah peserta didik setelah tamat dari  madrasah  atau  sekolah  terpadu  mereka  tidak  hanya  membawa  pulang selembar Ijazah saja, tetapi mereka bangga memiliki alumni dari Madrasah atau sekolah yang memiliki kecakapan hidup (Life Skills), memiliki kompetensi di dunia usaha  dan ada talenta dalam urusan agama. Dari itulah penulis tertarik membuat penelitian dan menulis dalam tesis ini yang berjudul : “Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan Pendidikan Dayah di MAS Syamsul Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie

Berdasarkan permasalahan di atas penulis perlu merumuskan beberapa masalah mengenai Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan Pendidikan Dayah di MAS Syamsul Ma'rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie sebagai berikut :

1.     Bagaimana   pengimplementasian   pendidikan   kecakapan   hidup   (Life Skills) yang terintegrasi dengan Pendidikan Dayah terhadap peserta didik di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie  ?

2.     Apasaja kendala di dalam  mengimplementasikan  pendidikan kecakapan hidup (Life Skills)  terhadap  peserta  didik  di  MAS  Syamsul  Ma’rifah Al- Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie?

3.     Bagaimana solusi di dalam mengimplementasikan pendidikan kecakapan hidup (Life Skills)  terhadap  peserta  didik  di  MAS  Syamsul  Ma’rifah Al- Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie  ?

 

B.       METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penulisan jurnal ini, penulis memakai penelitian metode kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif dan observasi kelapangan, juga penelaahan terhadap buku buku yang relevan[7]. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus  (Case Study)  salah  satu  dari  jenis  pendekatan  yang  dikemukakan  oleh Creswell adalah studi kasus. Jenis pendekatan studi kasus ini merupakan jenis pendekatan yang digunakan untuk menyelidiki dan memahami sebuah kejadian atau   masalah   yang   telah   terjadi   dengan   mengumpulkan   berbagai   macam informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah solusi agar masalah yang diungkap dapat terselesaikan[8].

Penelitian ini hendak mengeksplorasi atau menggambarkan tentang bagaimana performa guru PAI dalam mengimplementasikan pendidikan kecakaan hidup dipadukan dengan pendidikan Dayah studi kasus pada MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Tangse Kabupaten Pidie. Metode dengan pendekatan deskriptif menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya Lexy J. Moleong ialah pendekatan  ini  diarahkan  pada latar dan  individu  secara holistic  (utuh).  Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan. Adapun yang menjadi  subjek penelitian dalam tesis ini adalah Kepala Madrasah, Wakil Kepala, guru madrasah dan guru pengajian serta peserta didik di MAS DASYAMMA. Adapun bentuk pengumpulan data yang penulis tempuh antara lain: Observasi, interview, dokumentasi, dan studi literatur.

 

C.      HASIL PENELITIAN

1.     Temuan Khusus

a.     Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup yang Terintegrasi dengan Pendidikan Dayah.

1)     Jenis Pendidikan Kecakapan Hidup dan Jenis Pendidikan Dayah

kesimpulan bahwa semua bidang kecakapan hidup Lifeskill  terlaksana dengan sangat baik hanya perlu adanya upgrading bahan peralatan kerja lebih canggih lagi untuk mendapatkan hasil produksi yang berdaya saing dimasa yang akan datang. Sementara Lifeskill yang integrasi dengan pendidikan dayah sudah sangat sempurna dan perlu diberikan anjungan jempol kepada semua pihak yang telah menjadikan mereka memiliki akhlakul karimah.

2)     Kurikulum yang diterapkan dalam melaksanakan pendidikan kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas peneliti menarik kesimpulan bahwa perlu pembenahan dan pengadaan kurikulum untuk dapat melakukan pencapaian target pembelajaran dan pelatihan Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah. Sehingga peserta didik dapat terukur secara sistematis dalam mendapatkan pendidikan Lifeskill.

3)     Produksi Pasca implementasikan pendidikan kecakapan hidup Lifeskill.

Kesimpulan berdasarkan rumusan masalah Implementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse telah terjawab bahwa implementasinya sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari semenjak pencarian bakat kecakapan hidup Lifeskill dilakukan sejak dini yaitu saat pendaftaran peserta didik baru. Serta peserta didiknya yang berakhlakul karimah ini merupakan bukti integrasi pendidikan dayah terlah berhasil. Hanya saja Hardskill perlu pembenahan dibidang kurikulum sehingga mencapai target pelatihan serta dapat terukur uji kompetensinya atau evaluasinya. Di sisi lain, produksi hasil implementasi perlu peningkatan promosi dan sosialisasi keluar dan tidak hanya beredar barangan hanya disekira kompleks Dayah saja tapi bisa go nasional dan go internasional.

 

    b. Kendala Dalam Mengimplementasikan Pendidikan Kecakapan Hidup

1).   Faktor Dana

Hasil observasi dilapangan peneliti menemukan benar seperti yang dikatakan para guru dan kepala sekolah ini yang menjadi kendala produksi karna faktor ekonomi. Belum lagi dengan wabah virus covid-19 menjadikan ekonomi menjadi down[9].

Dari hasil observasi dan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa walaupun terkendala dengan faktor ekonomi namun produksi tetap berjalan dan ada bidang produksi yang memang tidak bermaslah dengan keuangan sebab proses perputaran uang yang sangat cepat.

2).   Faktor Waktu

Hasil observasi dilapangan peneliti temukan memang benar terjadi kekurangan waktu bagi peserta didik untuk mendapatkan pendidikan kecakapan hidup dikarenakan sangat padatnya jam belajar siang dan jam belajar malam hanya tersisa waktu pada antara waktu setelah asar dan menjelang magrib[10].

Hasil kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi di atas bahwa kendala waktu benar ada namun pendidikan harus tetap terlaksana sebagaimana mestinya walaupun waktu sedikit. Penambahan waktu menjadi pekerjaan rumah (PR) bagai kepala sekolah dalam menegosiasi dengan ketua yayasan Dayah Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong. Semoga ada jalan keluarnya.   

3).   Faktor Instruktur

Hasil observasi lapangan penulis menemukan kebanyakan instruktur adalah berasal dari lokal dalam komplek Dayah dan amat sukar dicari orang yang berasal dari luar dayah untuk kegiatan pendidikan kecakapan hidup yang tidak mampu di handle oleh instruktur lokal MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong[11].

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi diatas ialah pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup tetap berjalan walaupun dengan kekurangan instruktur yang dari luar tapi hanya untuk sekedar menyelesaikan kewajiban dan bukan untuk menyajikan yang hebat setaraf nasional, MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse masih belum mampu dan jika dua kendala diatas terselesaikan InsyaAlllah masalah nstruktur juga akan kelar. Karena kendala terkait antara satu dengan yang lainnya.  

Dengan demikian dapat disimpulkan berdasarkan rumusan masalah kendala dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse telah terjawab bahwa kendala utama dalam mengimplementasikan Pendidikan kecakapan hidup Lifeskill ialah bertumpu kepada tiga faktur utama yaitu : Faktor pertama ialah dana yang tidak memadai dalam pengadaan bahan baku, Faktor kedua ialah waktu yang tidak  tidak cukup karena padat waktu belajar pagi (sekolah) dan waktu pengajian malam dan faktor terakhir ialah Faktor Instruktur ang memiliki kompetensi.

 

c.      Solusi Terhadap Kendala Dalam Mengimplementasikan Pendidikan Kecakapan Hidup

1.     Faktor Dana

Hasil observasi dilapangan peneliti menemukan bahwa apa yang diutarakan oleh kepala MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong untuk mengalokasikan dana BOS terbukti pada struk laporan EDM erKAM Madrasah ada beberapa peralatan pelatihan yang dibelikan secara terstruktur dan berangsur. Begitu juga dengan Ketua Yayasan Dayah Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse, sangat berkomitmen dengan janjinya serta telah dirasakan hasilnya tahap pertama yaitu dengan mendapatkan 10 (sepuluh) unit mesin jahit dari Anggota Dewan DPRK Partai PAN yaitu Tgk. Hizbullah. Alumni dari Dayah Mudi Mestra Samlanga Bireueun yangkini menduduki jabatan sebagai Bendahara Partai PAN Kabupaten Pidie Aceh. Sementara ada pihak yang bersedia meminjamkan dana walaupun dalam jumlah skala menengah, sedikit banyaknya telah tertampung dan terselesaikan masalah keuangan[12].

2.     Faktor Waktu

kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi di atas bahwa solusi tentang permasalahan waktu telah terselesaikan dimana kepala dan guru atau instruktur menalokasikan waktu diluar jam belajar dan jam mengaji serta memilih hari minggu untuk pelatihan yang bersifat menenggah dan libur semester untuk pelatihan yang membutuhkan waktu yang agak lama.   

3.     Faktor Instruktur

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil observasi di atas ialah pelaksanaan pelatihan kecakapan hidup tetap berjalan lancar walaupun dengan  instruktur lokal yang penting handal dan hasilnya bukan tingkatan sandal dan yang sangat penting produk dari instruktur lokal tidak mahal pas untuk ukuran ekonomi menegah kebawah. Serta memberikan manfaat untuk ummat.  

Dengan demikian dapat disimpulkan berdasarkan rumusan masalah solusi  dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse telah terjawab sudah faktor dana diupayakan alokasi dana BOS, pendekatan dengan Anggota dewan putra Tangse, mendapat pinjaman dari lokal, serta berburu bantuan keuangan dari perintah secara online. Faktor waktu dilaksanakan pelatihan pada waktu diluar jam belajar pagi dan jam mengaji malam, serta mengoptimalkan waktu libur untuk pelatihan tertentu. Dan solusi tentang instruktur telah disepakati bahwa instruktur lokal yang handal menjadi modal mencetak peserta didik MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse sukses dunia akhirat.

 

 

 

D.      KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah Implementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse bahwa pelaksanaannya sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari semenjak pencarian bakat kecakapan hidup Lifeskill yang dilakukan sejak dini yaitu saat pendaftaran peserta didik baru. Serta peserta didiknya berakhlakul karimah, ini merupakan bukti integrasi pendidikan dayah telah berhasil. Hanya saja, Hardskill perlu pembenahan dibidang kurikulum sehingga mencapai target pelatihan serta dapat terukur uji kompetensi dan evaluasinya. Di sisi lain, produksi hasil implementasi perlu peningkatan promosi dan sosialisasi keluar dan barangan tidak hanya beredar disekitar kompleks Dayah saja tapi bisa go nasional dan go internasional.

Kendala dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse bahwa bertumpu kepada tiga faktur utama yaitu : Faktor pertama ialah dana yang tidak memadai dalam pengadaan bahan baku. Faktor kedua ialah waktu yang tidak  tidak cukup karena padat waktu belajar pagi (sekolah) dan waktu pengajian malam dan faktor terakhir ialah Faktor Instruktur yang belum memiliki sertifikat kompetensi nasional.

solusi  dalam mengimplementasi Pendidikan Kecakapan hidup Lifeskill yang terintegrasi dengan pendidikan dayah di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse juga berorientasi kepada tiga faktor juga yaitu:  faktor dana, dimana Pihak Kepala Madrasah  mengupayakan untuk mengalokasikan dana BOS bagi terlaksananya Pendidikan Kecakapan hidup. Pendekatan solusi lainnya yang diusahakan oleh Ketua Yayasan Dayah Syamsul Ma’rifah Tangse ialah dengan mendekati Anggota dewan putra Tangse. Faktor yang terakhir ialah waktu dimana pihak madrasah telah menemukan solusi untuk dilaksanakan pelatihan pada waktu diluar jam belajar pagi dan jam mengaji malam, serta mengoptimalkan waktu libur untuk pelatihan tertentu. Dan solusi tentang instruktur telah disepakati bahwa instruktur lokal yang handal menjadi modal mencetak peserta didik MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Tangse sukses dunia akhirat.

 

E.       DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2020. Statistik, Pangkalan Data Pondok Pesantren (pdpp). Statistik Data Pondok Pesantren. Online. (https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pdpp/statistik, diakses 19 September 2022)

Creswell, Jhon W. 2016. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

Departemen Agama  Republik Indonesia, 2000.  Al-Qur’an  dan  Hadits Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Semarang: PT. Karya Toha Putra.

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2017.Panduan Penilaian. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Atas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dosen Analisis Kurikulum PAI Berbasis Kearifan Lokal IAIN Lhokseumawe

Dosen Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.

Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.

Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 08 Juni 2022.

Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten Pidie. Tgl 08 Juni 2022.

Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya,.

 



[1] Dosen Analisis Kurikulum PAI Berbasis Kearifan Lokal IAIN Lhokseumawe

[2] Dosen Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

[3] Departemen Agama  Republik Indonesia, 2000.  Al-Qur’an  dan  Hadits Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Semarang: PT. Karya Toha Putra. h 546

[4] Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2017.Panduan Penilaian. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Atas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. h.11

[5] Anonim, 2020. Statistik, Pangkalan Data Pondok Pesantren (pdpp). Statistik Data Pondok Pesantren. Online. (https://ditpdpontren.kemenag.go.id/pdpp/statistik, diakses 19 September 2022)

 

[6] Ibid

[7] Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, , h 264

[8] Creswell, Jhon W. 2016. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, h. 346

[9] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.

 

[10] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 07 Juni 2022.

[11] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten PidieTgl 08 Juni 2022.

 

[12] Hasil Observasi Lapangan di MAS Syamsul Ma’rifah Al-Aziziyah Blang Bungong Kabupaten Pidie. Tgl 08 Juni 2022.

 

 

Blogger news

Blogroll

Arsip Blog